Aksi Penolakan Film 212 di Manado

Posted on

Film 212 The power of Love, yang tayang dibioskop nasional sejak 9 Mei 2018, diapresiasi oleh banyak tokoh. Mereka memuji film produksi Warna Pictures itu sebagai film yang bagus dan layak ditonton oleh masyarakat.

Namun penayang film ini mendapat penolakan di kota Manado. Akun atas nama Liberty Roeroe memposting gambar yang menyatakan penolakan terhadap film 212 tersebut. Hal ini menanggapi bermacam-macam tanggapan dan respon dari para warganet. Komentar dalam postingan tersebut sebagian besar menolak penayangan 212 di Manado karena dianggap sebagai film propaganda radikalis.  Aksi penolakan tersebut menjadi viral salah satunya melalui postingan di dalam grup, Facebook Tim Paniki Polresta Manado.

Beberapa komentar di postingan itu diantaranya dari akun Richard V P yang berkomentar “Kalo puter mo kase tunjung propaganda ini film bahaya” (Kalau diputar menunjukkan propaganda, ini film bahaya), ada pula akun Willy Mamonto Ambar yang menyoroti Komisi Penyiaran Indonesia yang tidak mengawasi pemutaran film ini “KPI panako ini… Masa flm nda mendidik ini nda di tegur parah” (KPI Penakut.. Kenapa film tidak mendidik ini tidak ditegur, parah). Masih banyak juga komentar-komentar dari para netizen di Manado yang menolak penayangan film ini di Manado.

Dari informasi yang beredar dalam postingan di grup facebook tersebut, film 212 ini telah diputar di bioskop CGV Grand Kawanua Manado dan Platinum Bitung. Bahkan di CGV Grand Kawanua telah digelar kegiatan Nonton Bareng Film 212 pada hari libur tanggal 10 Mei 2018, pukul 19.30 WITA tepatnya di Auditorium 5.

Berikut ini sinopsis film 212 : The Power of Love dibintangi oleh aktor Fauzi Baadilah dan disutradai oleh Jastis Arimba. Film ini menceritakan tentang Rahmat (30 tahun), seorang jurnalis di Majalah Republik. Selama ini Rahmat tinggal sendiri di Jakarta, sikapnya yang dingin dan cenderung sinis membuat ia tidak memiliki banyak teman, kecuali Adhin (29 tahun) seorang fotografer yang menjadi satu satunya sahabat.

Suatu ketika Rahmat mendapat kabar bahwa ibunya meninggal dunia, ia pun harus pulang ke rumahnya di Ciamis, rumah yang telah 10 tahun ia tinggalkan dan belum pernah satu kalipun kembali karena permasalahan di masa lalu. Usai pemakaman Rahmat bermaksud kembali ke Jakarta, namun dia mendapat berita bahwa ayahnya Ki Zanal (60 tahun) akan melakukan longmarch bersama para santri dari Ciamis untuk mengikuti aksi pada tanggal 2 Desember 2016 di Jakarta yang dikenal dengan aksi bela Islam 212.

Walau Ki Zainal bersikeras, Rahmat terus berupaya menghentikan niat ayahnya tersebut, karena menurutnya itu tindakan konyol dan aksi 212 tak lebih dari aksi politis yang ditunggangi dan akan memicu kerusuhan serta jatuhnya korban jiwa seperti yang terjadi pada peristiwa aksi 98.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *